Ikhlas, satu kata yang sering terdengar di telinga kita. Pastinya tidak kita pungkiri lagi istilah ini menjadi teman akrab kita dalam setiap beramal. Pada hakikatnya ikhlas bukan berarti menghadap kepada Allah dalam suatu perbuatan, melainkan yang dimaksud dengan ”ikhlas” adalah mengarahkan seluruh amal perbuatan semata kepada Allah, bukan yang lain. Ikhlas adalah menghadapkan seluruh amal perbuatan batiniah kepada Allah semata, demikian pula dengan amal perbuatan lahiriah.
Setiap muslim dalam melakukan suatu amal, pastinya dia memiliki niat. Niat ini tergantung dari muslim tersebut, apakah dia dalam beramal niatnya ikhlas karena Allah swt. Atau dia beramal niatnya hanya untuk memamerkan harta yang dia miliki?. Masing-masing orang memiliki hak untuk beramal, tapi alangkah baiknya jika amal tersebut ia lakukan karena Allah dan mengharap ridha Allah. Sebagaimana Rasulullah saw pernah bersabda: ”Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niat. Setiap orang mendapatkan apa yang diniatkan. Orang yang berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya menuju Allah dan RasulNya. Orang yang hijrahnya untuk meraih dunia atau mengawini wanita, maka hijrahnya menuju apa yang dia tuju.”
Hadits di atas jelas sekali menerangkan bahwa segala sesuatu amal perbuatan itu tergantung niatnya, jika kita beramal niatnya karena Allah maka kita bisa dikategorikan beramal dengan ikhlas, akan tetapi jika kita beramal bukan karena Allah atau mungkin karena mengharapkan pujian dari orang-orang, maka bisa dikatakan riya’. Ibarat sepak bola, Arema VS Sriwijaya FC pastinya dari kedua tim sepak bola tersebut ada yang menang dan ada yang kalah. Begitu juga dengan Ikhlas VS Riya’, jika amalnya karena Allah maka ikhlaslah yang menang, tapi sebaliknya jika amalnya bukan karena Allah maka riya’ yang menang.

